Berprasangka Baik kepada Allah

Saat merasa masalah hidup ini sangat berat untuk dihadapi.

Tak jarang keluh kesah pun terucap.

Sakitnya lagi, semakin kita mengeluhkannya seolah-olah masalah semakin pelik dan sulit untuk dijalani.

Yup, secara naluriah memang seperti itulah karakter kita sebagai manusia. Berkeluh kesah.

Uang habis, ngeluh . . .

Banyak hutang, ngeluh . . .

Bisnis seret, ngeluh . . .

Jodoh lambat datang, ngeluh . . .

Padahal sudah banyak lho nasihat-nasihat para ulama atau juga motivator yang mengingatkan kita agar tidak berkeluh kesah. Tapi yang namanya naluri ya, hehe. Jadi keluarnya secara spontanitas tak disadari.

Baiklah, tapi jangan anggap saya akan turut serta menasihati ya soal “Jangan berkeluh kesah”. Jujur, saya tak luput dari hal demikian itu. Apalah daya, hanya manusia biasa. Tapi, tetap berusaha jadi lebih baik. Amin! hehe.

Saya ada sebuah kisah yang sangat menginspirasi soal keluh kesah ini.

Tahukah Anda mengapa berkeluh kesah ini sangat ditekankan untuk dihindari?

Sebab, berkeluh kesah sama saja menolak garis nasib yang telah dianugerahkan Allah kepada kita. Meski tidak sampai pada tahap kufur. Namun jika berlebihan, bisa sampai ke sana juga arahnya. Apa lagi kalau sampai mengatakan Allah tidak adil. Nauzubillah . . .

Baiklah izinkan saya menceritakan kisahnya.

Ceritanya ada seorang raja dan seorang menterinya berdialog.

Sang raja ini mengeluhkan keadaannya yang sangat membuatnya stress. Kemudian ia meminta nasihat kepada menterinya.

Nasihat sang menteri: “Apa pun yang menimpa kehidupan kita, tak terkecuali kesulitan, maka berprasangka baiklah kepada Allah, Tuanku! Pasti ada hikmahnya. Di balik setiap peristiwa pasti ada hikmanya.”

Sang Raja kurang puas dengan jawaban menterinya.

“Hanya seperti itukah nasihatmu, Menteriku?”

“Iya, Tuanku.”

Pada suatu hari, Sang Raja dan Menteri berburu ke hutan. Bersama sepasukan yang mengawal mereka, perburuan berlangsung cukup lama hingga senja tiba.

Ketika perjalanan pulang, tak terduga, Sang Raja tanpa terjebak dalam jebakan hewan buruan. Kakinya patah.

Bukan main sedihnya Sang Raja akibat kejadian itu. Ia mengeluhkan setiap kesulitan yang ia hadapi akibat kakinya yang kini tak sempurna lagi.

Sang Menteri pun menemani Sang Raja sembari menasihatinya dengan nasihat yang sama seperti biasanya.

“Sabarlah Sang Raja. Setiap peristiwa pasti ada hikmanya. Allah tidaklah memberikan sesuatu kepada kita kecuali ada manfaat dan hikmahnya di kemudian hari.”

Sang Raja tidak terima dengan pernyataan menterinya itu. Dia pun marah. Akhirnya Sang Menteri ia masukkan ke dalam penjara.

“Menteri, dengan apa yang menimpamu saat ini, apakah yang akan kau ucapkan kepada dirimu sendiri?”

“Saya harus bersabar. Saya yakin, di balik dipenjarakannya saya ini, pasti ada hikmahnya.”

“Aaahh terserah kamu!!!”


Di lain hari, Sang Raja pun kembali berburu. Ini adalah hobinya, jadi meskipun kakinya kini pincang, ia tetap semangat sekali jika berburu.

Sampailah ia dan rombongannya di ujung perbatasan teritorial kekuasaanya. Dan tidak terduga ternyata mereka masuk ke wilayah sebuah suku kanibal.

Singkatnya, mereka ditangkap oleh suku kanibal tersebut.

Satu per satu anggota rombongan dimasukkan ke dalam kuali. Mereka disantap. Hingga tiba giliran Sang Raja.

Ternyata kaum kanibal ini memiliki syarat khusus, manusia cacat tidak akan meraka makan. Tentunya ketika mereka melihat Sang Raja berjalan terpincang-pincang, mereka langsung mengetahui bahwa Sang Raja ini cacat. Tak mungkin mereka makan.

Akhirnya Sang Raja pun dilepaskan.

Sepanjang jalan pulang, Sang Raja menangis. Ia menyesali kebijakannya yang memenjarakkan menterinya itu. Menterinya benar, Allah punya rencana yang lebih besar ketimbang penderitaan yang ia keluh kesahkan saat ini.

Cacat kaki ini memberikan hikmah yang sangat disyukurninya. Betapa sebab itu, nyawanya selamat dari kaum kanibal.

Sesampainya di Istana, dia langsung membebaskan Menteri dan meminta maaf atas keputusannya memenjarakan menteri. Seraya menceritakan apa yang dialaminya sehingga ia memutuskan untuk membebaskan Sang Menteri.

Sambil tersenyum Sang Menteri menjawab.

“Seharusnya sayalah yang berterima kasih kepada Anda, Tuanku. Sebab, jika engkau tidak memenjarakanku dan aku ikut berburu berasamamu, aku tidak akan selamat dari kaum kanibali itu.

Inilah pelajaran penting bagi kita wahai Tuanku, apapun yang menimpa kita pasti ada hikmahnya. Jika berat untuk dihadapi, bersabarlah. Pasti akan ada kebaikan yang bisa kita nikmati setelahnya.”

NAH, bagaimana menurut Anda kisah ini?

Semoga menginspirasi dan bermanfaat ya.

O iya. Jika Anda mendapatkan sesuatu yang berkesan dari tulisan jelek saya ini, sudilah kiranya untuk share ya.

Semoga bisa jadi Amal Jariyah. Amin.

KLIK SHARE di bawah ini ya!

Terima Kasih!

Komentar Pakai FB

Leave a Reply